Tulisan ini mungkin merupakan sikap tambahan dari artikel sebelumnya mengenai BPHTB Mulai Hambat Pertumbuhan Rumah Rakyat dimana kisruh BPHTB menyebabkan proses peralihan hak atas tanah menjadi terhambat. Dimana pada sebuah peristiwa perolehan melibatkan tiga pihak berbeda, antara lain pemungut BPHTB, PPAT, dan BPN. Ketika salah satu pihak tidak ada maka proses pengalihan/perolehan tanah menjadi tidak bisa dijalankan. Terutama oleh BPN sebagai Badan yang memiliki wewenang untuk mengeluarkan sertifikat Hak Atas Tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum dari kepemilikan tanah.

Dalam sebuah proses peralihan hak atas tanah hal pertama yang terjadi adalah proses kesepakatan jual-beli antara penjual dan pembeli. Kesepakatan jual beli ini dikukuhkan melalui sebuah akta jual beli yang ditandatangani oleh PPAT. Namun syarat pertama sebelum PPAT dapat menandatangani akta jual-beli berdasarkan  pasal 91 UU PDRD tahun 2009 adalah harus dilunasinya BPHTB. Dan sebagai bukti lunasnya BPHTB adalah adanya SSB (surat setoran Bea) yang menjadi syarat untuk ditandatanganinya akta jual-beli oleh PPAT.

 

Add a comment
Halaman 2 dari 2